Di tengah kebijakan tarif tinggi yang digencarkan Amerika Serikat, perekonomian global justru menyaksikan sebuah pencapaian fenomenal. Tiongkok berhasil mencatatkan surplus perdagangan tertinggi sepanjang sejarahnya pada tahun 2025, dengan angka yang mendekati 1.2 triliun dolar AS. Rekor sebesar 1.19 triliun dolar AS ini memecahkan rekor sebelumnya di tahun 2024 yang sebesar 992 miliar dolar AS dan menjadi angka surplus terbesar yang pernah dicapai oleh satu negara dalam sejarah perdagangan internasional.
Kinerja ini adalah bukti ketangguhan mesin ekspor China, yang berhasil beradaptasi dengan lanskap dagang global yang berubah drastis. Meskipun ekspor ke AS anjlok 20 persen sepanjang 2025 akibat tarif yang mencapai 47.5 persen, China secara agresif mencari dan menaklukkan pasar baru. Lonjakan ekspor terbesar terjadi di Afrika, yang tumbuh 26 persen, diikuti oleh kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sebesar 13 persen. Ekspor ke Uni Eropa dan Amerika Latin juga meningkat signifikan, masing-masing sebesar 8 persen dan 7 persen. Pergeseran geografis ini menunjukkan strategi diversifikasi pasar yang dilakukan para eksportir China berjalan efektif, mengubah tantangan menjadi peluang ekspansi.
Ketimpangan Ekonomi di Balik Angka Fantastis
Namun, di balik angka surplus yang fantastis tersebut, tersembunyi ketimpangan struktural dalam perekonomian Tiongkok. Surplus raksasa ini justru menggarisbawahi kelemahan mendasar: konsumsi domestik yang lesu dan ketergantungan berlebihan pada ekspor. Permintaan dalam negeri tetap tertekan oleh perlambatan sektor properti yang berkepanjangan serta ketidakpastian lapangan kerja. Akibatnya, impor Tiongkok tumbuh stabil namun tanpa kenaikan yang signifikan, sebesar 2.58 triliun dolar AS pada 2025. Ketimpangan antara sektor manufaktur ekspor yang perkasa dan konsumsi domestik yang lemah ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Beijing.
Respons Amerika Serikat dan Pergeseran Rantai Pasok
Di sisi lain, Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, terus menjalankan kebijakan proteksionisme yang agresif sepanjang 2025. Rata-rata tarif impor AS bahkan mencapai level tertinggi sejak 1935, yakni mendekati 17 persen pada November 2025. Kebijakan ini memang berhasil mengumpulkan pendapatan tarif lebih dari 236 miliar dolar AS bagi kas negara, namun gagal mencapai tujuan utamanya: defisit perdagangan AS justru meningkat 17 persen secara year-to-date dibandingkan 2024.
Yang terjadi adalah pergeseran besar dalam rantai pasok global. Impor AS dari Tiongkok memang anjlok 25 persen, namun negara-negara seperti Meksiko dan Vietnam mengambil alih pangsa pasar yang ditinggalkan. Data pada September 2025 menunjukkan defisit AS dengan China menyusut menjadi 11.4 miliar dolar AS, tetapi defisit dengan Meksiko, Vietnam, dan Taiwan justru melebar. Hal ini mengindikasikan bahwa beban biaya akibat tarif sebagian besar ditanggung oleh konsumen dan bisnis AS, sementara pola defisit perdagangan AS hanya bergeser, bukan menyusut secara fundamental.
Indonesia di Tengah Pusaran Dua Raksasa
Bagi Indonesia, dinamika perdagangan antara dua raksasa ekonomi ini membawa dampak sekaligus peluang strategis. Di satu sisi, ketegangan global dapat mengganggu rantai pasok dan menekan harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Di sisi lain, terbuka peluang besar untuk menarik investasi melalui relokasi industri. Perusahaan-perusahaan yang ingin menghindari tarif tinggi AS terhadap produk China mulai mencari basis produksi baru, dan Indonesia berpotensi menjadi tujuan dengan menawarkan insentif serta mempercepat reformasi birokrasi.
Kunci bagi Indonesia adalah memanfaatkan momentum ini untuk melakukan lompatan ekonomi. Strategi diversifikasi pasar ekspor ke Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah perlu diperkuat untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan Tiongkok. Selain itu, percepatan hilirisasi industri dan peningkatan daya saing logistik nasional menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi alternatif sementara, tetapi menjadi hub produksi yang berkelanjutan di kawasan.
Masa Depan yang Penuh Tantangan
Memasuki tahun 2026, para ekonom memperkirakan kinerja ekspor China akan melambat. Pertumbuhan ekspor diperkirakan sekitar 3 persen, lebih rendah dari 5.5 persen di tahun 2025. Namun, dengan pertumbuhan impor yang diproyeksikan tetap lambat, surplus perdagangan Tiongkok diperkirakan akan tetap berada di atas 1 triliun dolar AS. Tekanan dari mitra dagang juga semakin kuat. Uni Eropa mulai menyoroti membanjirnya produk China di pasarnya, dan pemerintah Tiongkok sendiri disebutkan berencana menghapus insentif pajak ekspor untuk ratusan produk, termasuk sel surya dan baterai, guna meredakan ketegangan dagang.
Rekor surplus China tahun 2025 adalah kisah tentang ketangguhan, adaptasi, dan sekaligus kerentanan. Ia menunjukkan kemampuan ekonomi China untuk bertahan di tengah badai, tetapi juga mengungkap ketergantungan yang dalam pada permintaan eksternal dan kelemahan permintaan internal. Bagi dunia, angka triliunan dolar ini adalah pengingat bahwa perang dagang dan kebijakan proteksionisme tidak serta-merta mengubah neraca perdagangan global secara drastis, melainkan seringkali hanya memindahkan alur dan beban ekonomi. Masa depan stabilitas ekonomi global akan sangat bergantung pada bagaimana Tiongkok mengelola ketimpangan domestiknya dan bagaimana negara-negara lain, termasuk Indonesia, merespons dan memanfaatkan perubahan peta perdagangan dunia yang terus bergeser ini.