refill of liquid on tubes

Di Peta Riset Global, Indonesia Masih “Menggeliat” di Pinggiran

Setiap tahun, pusat studi sains dan teknologi di Universitas Leiden merilis sebuah penilaian mendalam terhadap kinerja ilmiah universitas-universitas terbaik dunia. Berbeda dengan pemeringkat lain yang mempertimbangkan reputasi, pengajaran, atau fasilitas, Leiden Ranking ini murni memotret produktivitas dan dampak penelitian saintifik. Ia mengukur seberapa sering karya-karya ilmuwan dikutip oleh rekan sejawat global, yang menjadi standar emas pengaruh ilmiah. Dalam dunia akademik yang objektif ini, tak ada cerita tentang “kampus favorit” atau “ijazah yang dipersoalkan”; yang ada hanya data publikasi dan sitasi yang keras dan tak terbantahkan.

Edisi 2025 membawa perubahan seismik: dominasi tradisional Amerika Serikat telah tergeser oleh lonjakan dramatis universitas-universitas dari Cina. Dari 10 besar, delapan diisi oleh Cina, dengan Universitas Zhejiang di puncak, menggeser Harvard yang turun ke posisi ketiga. Pergeseran kekuatan ilmiah ini adalah hasil dari investasi miliaran dolar dan ambisi strategis Cina dalam membangun kapasitas riset kelas dunia, sebuah tren yang dicatat sebagai yang paling mencolok dalam sistem pemeringkatan berbasis riset seperti Leiden.

Lantas, di manakah Indonesia berada dalam peta kompetisi ilmu pengetahuan yang semakin ketat ini?

Membaca Peringkat dengan Benar: Bukan Sekadar “Peringkat ke-1024”

Sebelum tenggelam dalam angka, penting memahami bahwa Leiden Ranking 2025 kini hadir dalam dua edisi: Traditional Edition dan Open Edition yang lebih baru. Open Edition mencakup lebih dari 2.800 universitas berbasis data terbuka yang transparan. Universitas Leiden sendiri, sang penyusun ranking, secara terbuka menyatakan bahwa pemeringkatan dunia manapun tidak menawarkan gambaran lengkap atas kualitas sebuah universitas.

Mereka menekankan bahwa Leiden Ranking seharusnya dilihat sebagai alat multidimensi, bukan daftar peringkat tunggal. Alat ini memungkinkan analisis pada berbagai indikator khusus, seperti proporsi publikasi yang masuk dalam 10% teratas paling banyak disitir di bidangnya (indikator PP top 10%), kolaborasi internasional, atau publikasi akses terbuka. Sayangnya, ketika kita menyaring data untuk menemukan universitas Indonesia, cerita yang muncul tetap suram.

Posisi Indonesia: Dari Jarak yang Sangat Jauh

Dalam landscape yang diukur murni oleh dampak penelitian, universitas-universitas Indonesia hampir tak terlihat. Berdasarkan data yang tersedia:
Universitas Indonesiaberada di sekitar peringkat 1024.
Institut Teknologi Bandung (ITB)menyusul di sekitar peringkat 1190.
Universitas Gadjah Mada (UGM)berada di sekitar peringkat 1216.
Universitas Padjadjaran (Unpad)dan Universitas Airlangga (Unair) menempati posisi di kisaran 1378 dan 1584.

Posisi ini, yang berada di separuh hingga sepertiga buncit dari seluruh universitas yang dinilai, secara tegas mencerminkan tantangan mendasar. Sistem seperti Leiden, yang memberi penekanan kuat pada volume dan dampak penelitian, justru menunjukkan penurunan paling tajam bagi institusi yang tidak berinvestasi besar-besaran dalam riset. Sebaliknya, pemeringkatan yang lebih luas seperti QS (di mana UI dan UGM berada di peringkat dunia 436 dan 580 pada 2026) mungkin memberi gambaran yang sedikit berbeda. Namun, dalam pertarungan murni pengaruh ilmiah, ceritanya jelas: kita tertinggal sangat jauh.

Mengapa Kita “Betah” di Peringkat Bawah? Sebuah Diagnosa Ringkas

Pertanyaan retoris tentang “ilmuwan ngapain saja” atau “cita-cita jadi pegawai negeri” memang menggelitik, tetapi akar masalahnya lebih sistemik dan kurang lucu. Leiden Ranking memberikan petunjuk melalui indikator-indikatornya:

· Dampak Sitasi yang Minimal: Indikator kunci seperti PP(top 10%)—proporsi publikasi yang termasuk dalam 10% teratas bidangnya—pasti sangat rendah bagi perguruan tinggi Indonesia. Riset yang dihasilkan kurang mampu menarik perhatian dan dialog komunitas ilmiah internasional.
· Kolaborasi Internasional yang Terbatas: Indikator PP(int collab) mengukur seberapa banyak riset dilakukan bersama ilmuwan dari negara lain. Kolaborasi adalah jalan tol menuju visibilitas dan kualitas. Minimnya kolaborasi global mengisolasi riset kita.
· Keterkaitan dengan Industri yang Lemah: PP(UI collab) mengukur kolaborasi dengan industri. Lemahnya link-and-match antara kampus dan dunia usaha/industri mengerdilkan relevansi dan sumber pendanaan riset terapan.

Jadi, masalahnya bukan pada kemalasan individu, melainkan pada ekosistem yang belum mendorong produksi ilmu pengetahuan yang kompetitif secara global. Anggaran riset yang kecil, birokrasi yang berbelit, budaya publikasi yang belum kuat, dan kurangnya insentif untuk kolaborasi global adalah beberapa bagian dari teka-teki besar ini.

Apa yang Bisa Dipelajari? Jangan Lihat Angka, Tapi Indikatornya

Daripada terpaku pada posisi “peringkat ke-1024”, langkah pertama yang cerdas adalah berhenti melihat Leiden Ranking sebagai sekadar daftar. Seperti yang dianjurkan oleh pembuatnya sendiri, alat ini sebaiknya digunakan untuk introspeksi dan perbaikan yang terukur.

Setiap rektorat dan lembaga riset di Indonesia dapat mengakses Leiden Ranking Open Edition secara gratis. Mulailah dengan pertanyaan-pertanyaan strategis: Berapa PP(top 10%) kami tahun ini? Bisakah kami meningkatkannya 1% dalam tiga tahun? Berapa proporsi kolaborasi internasional kami dibandingkan dengan Universitas Malaya atau Chulalongkorn? Bidang ilmu apa yang sudah memiliki sinyal dampak yang baik, sehingga perlu didanai lebih fokus?

Ketika universitas-universitas Cina berhasil naik dengan strategi investasi dan ambisi yang terukur, Indonesia masih berkutat di dasar peringkat. Pergeseran ini bukanlah ilusi statistik, melainkan cerminan dari perubahan nyata dalam geopolitik ilmu pengetahuan dunia. Tantangan bagi Indonesia bukan sekadar untuk naik beberapa peringkat, melainkan untuk memutuskan: apakah kita ingin menjadi penonton yang hanya bisa “mencari bendera merah-putih dengan sabar plus tawakal” di papan peringkat, atau menjadi pelaku yang secara sistematis membangun kapasitas untuk berkontribusi pada percakapan ilmiah global? Jawabannya tidak akan ditemukan di dalam ranking, tetapi di dalam kebijakan, anggaran, dan komitmen nyata kita terhadap ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Total
0
Share
error: Content is protected !!