dari Jalanan Kolkata Hingga Gedung Kongres AS

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang dilanda konflik dan ketidakpastian, secercah harapan sering kali datang dari sumber yang paling tak terduga. Kisah Aloka, seekor anjing kampung asal India, adalah bukti nyata bahwa pesan perdamaian dan kesetiaan dapat melampaui batas spesies, bahasa, dan benua. Perjalanannya yang luar biasa, dari anjing liar di jalanan Kolkata hingga menjadi maskom global yang dikenal sebagai “Aloka si Anjing Perdamaian” (Aloka the Peace Dog), telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.
Perjumpaan Tak Terduga di Ziarah India 2022
Kisah Aloka bermula pada tahun 2022, di jalanan Kolkata, India. Saat itu, Yang Mulia Bhikkhu Pannakara, seorang biksu Buddha Vietnam-Amerika, sedang memimpin rombongan para biksu dalam sebuah “Ziarah Perdamaian” (Walk for Peace) melintasi India . Rute mereka membentang lebih dari 3.000 kilometer, melewati berbagai medan dan kota, termasuk Bodh Gaya, tempat suci bagi umat Buddha .

Di tengah perjalanan, tepatnya di dekat sebuah bandara di Kolkata, para biksu mulai diikuti oleh seekor anjing liar . Bukan hal yang aneh bagi rombongan peziarah untuk diikuti oleh anjing-anjing jalanan. Namun, menurut penuturan Bhikkhu Pannakara kepada The Times of India, “Banyak anjing yang mengikuti kami saat berjalan, tetapi mereka biasanya meninggalkan kami… hanya dia… Aloka yang terus kembali” .
Anjing itu, yang kemudian diperkirakan berusia sekitar satu tahun, bertekad untuk tetap bersama para biksu. Ia berjalan siang dan malam, melewati teriknya panas, hujan, dan kelelahan, tanpa pernah meminta apa pun selain tetap berada di dekat mereka . Bahkan ketika sebuah mobil menabraknya di suatu titik dalam perjalanan, dan ia jatuh sakit parah, ia selalu menemukan cara untuk bergabung kembali dengan barisan para biksu yang berjalan tanpa alas kaki itu . Seperti yang diceritakan dalam sebuah unggahan media sosial para biksu, “Meskipun hari kelahirannya yang tepat masih menjadi misteri, kesetiaan dan semangat damainya terlihat jelas oleh semua orang yang ia temui” .
Makna di Balik Nama “Aloka”
Melihat tekad dan ikatan istimewa yang terbentuk, Bhikkhu Pannakara memutuskan untuk memberinya nama. Ia menamai anjing itu Aloka, sebuah kata dari bahasa Pali dan Sanskerta yang berarti “cahaya ilahi,” “pencerahan,” atau “kejelasan batin” . Sang biksu berharap, dengan nama itu, Aloka dapat menemukan cahaya kebijaksanaan dan terbebas dari penderitaan menuju Nibbana .

Yang membuat Aloka semakin istimewa adalah tanda unik di dahinya: sebuah corak bulu berwarna putih dan cokelat yang membentuk simbol hati . Tanda ini seolah menjadi simbol visual dari kasih sayang yang ia tebarkan ke mana pun ia pergi.
Perjalanan Panjang Menuju Amerika Serikat
Setelah menyelesaikan ziarah di India yang berlangsung lebih dari 100 hari, para biksu harus kembali ke pusat meditasi mereka, Huong Dao Vipassana Bhavana Center di Fort Worth, Texas . Bhikkhu Pannakara merasa bahwa Aloka pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada kembali ke jalanan.
Namun, membawa anjing jalanan dari India ke Amerika Serikat bukanlah perkara mudah. Prosesnya membutuhkan dokumen yang rumit, biaya yang tidak sedikit, dan relawan yang berdedikasi. Melalui upaya penggalangan dana, para anggota vihara berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 14.000 (sekitar Rp 227 juta) . Bhikkhu Pannakara kemudian mengurus semua dokumentasi yang diperlukan untuk penerbangan Aloka ke Bandara JFK di New York. Setelah tiba, Aloka harus menjalani karantina selama 28 hari sebelum akhirnya dijemput dan dibawa ke Texas .
Bintang Baru dalam “Walk for Peace” 2025-2026
Babak baru dalam kehidupan Aloka dimulai pada 26 Oktober 2025. Saat itulah sekelompok 19 biksu dari Pusat Vipassana Bhavana Huong Dao, yang dipimpin Bhikkhu Pannakara, memulai “Walk for Peace” yang ambisius: berjalan kaki sejauh 2.300 mil (sekitar 3.700 kilometer) dari Texas menuju Washington, D.C. . Tujuan mereka adalah untuk menyebarkan pesan kesadaran penuh (mindfulness), kasih sayang, dan perdamaian di tengah masyarakat Amerika yang terpolarisasi.

Aloka, tentu saja, ikut serta. Ia berjalan dengan penuh semangat di samping para biksu, melewati sepuluh negara bagian: Texas, Louisiana, Mississippi, Alabama, Georgia, South Carolina, North Carolina, Virginia, dan akhirnya Washington, D.C. . Kehadirannya segera mencuri perhatian. Foto dan video Aloka yang berjalan dengan riang, dengan tanda hati di dahinya, menjadi viral di media sosial. Akun Instagram-nya, @alokathepeacedog, melesat populer, diikuti oleh hampir setengah juta orang . Ia menjadi duta perdamaian yang tidak pernah diminta, tetapi diterima dengan hangat oleh ribuan orang yang dijumpainya di sepanjang jalan . Bhikkhu Pannakara menggambarkannya sebagai “kehadiran yang konstan, seorang murid sejati dari jalan setapak, dan pengingat hidup bahwa semua makhluk berjalan menuju perdamaian” .
Ujian di Tengah Jalan: Cedera dan Operasi

Namun, perjalanan sejauh itu bukannya tanpa hambatan. Di South Carolina, para biksu menyadari Aloka mulai pincang karena cedera lutut kronis yang dideritanya sejak di India . Pada 12 Januari 2026, ia menjalani operasi ortopedi di Charleston Veterinary Referral Center untuk memperbaiki robekan pada ligamen kranial (cranial cruciate ligament/CCL), cedera yang umum terjadi pada anjing .
Operasinya berjalan lancar, dan tim dokter hewan dengan senang hati menanggung seluruh biaya perawatan, menganggapnya suatu kehormatan bisa merawat Aloka . Aloka harus beristirahat dan menjalani rehabilitasi, berjalan kaki tidak lebih dari sepuluh menit setiap kalinya selama masa pemulihan . Untuk sementara, ia beristirahat di dalam kendaraan pendukung rombongan.
Kabar pertemuannya kembali dengan para biksu terjadi beberapa hari kemudian di Charlotte, North Carolina. Sebuah unggahan di halaman Facebook resmi Walk For Peace menggambarkan momen mengharukan itu: “Begitu dia (Aloka) melihat mereka, ekornya mulai bergoyang dengan penuh sukacita—sungguh pemandangan yang indah untuk dilihat. Bahkan dalam perjalanan pemulihannya, ikatannya dengan para biksu tetap begitu kuat” .
Garis Waktu Perjalanan Aloka
Tanggal Peristiwa
2022 Bertemu dan mulai mengikuti para biksu dalam ziarah perdamaian di India .
Akhir 2022 Diadopsi dan dibawa ke AS setelah melalui karantana .
26 Oktober 2025 Memulai Walk for Peace dari Fort Worth, Texas, bersama para biksu .
Desember 2025 Berjalan melewati Alabama, termasuk memberi berkah di Jembatan Edmund Pettus di Selma .
12 Januari 2026 Menjalani operasi ortopedi di South Carolina .
15 Januari 2026 Bersatu kembali dengan para biksu di Charlotte, North Carolina .
11 Februari 2026 Menyelesaikan perjalanan di Washington, D.C., dan mengikuti acara puncak di Lincoln Memorial .
Simbol Harapan di Tengah Dunia yang Gelisah
Pada 11 Februari 2026, setelah 109 hari berjalan, rombongan tiba di Washington, D.C. . Di tengah cuaca dingin yang mencapai minus 7 derajat Celcius, Aloka menyelesaikan langkah terakhirnya menuju National Mall . Kehadirannya di acara puncak di Lincoln Memorial menjadi daya tarik tersendiri, disambut oleh ribuan pendukung yang telah mengikuti perjalanannya .

Kisah Aloka adalah pengingat yang kuat akan nilai-nilai universal. Seperti yang ditulis oleh seorang profesor emeritus dalam sebuah artikel, mengutip sabda Buddha, “Seseorang tidaklah superior karena kelahiran, juga tidak menjadi superior karena kelahiran; karena perbuatan seseorang menjadi superior, karena perbuatan seseorang menjadi tidak superior” . Aloka, si “anjing kampung” dari India, telah menunjukkan kebijaksanaan, kesetiaan, dan kedamaian yang melampaui segala bentuk status.
Di dunia di mana Doomsday Clock menunjukkan 89 detik menuju tengah malam, di tengah ancaman perang nuklir, krisis iklim, dan kekacauan moral, kisah Aloka menawarkan jawaban yang sederhana namun mendalam . Jika seekor anjing liar bisa memilih untuk mengikuti jalan perdamaian, mengabdikan dirinya pada kesetiaan tanpa syarat, dan menyebarkan ketenangan ke mana pun ia pergi, maka setiap manusia pun seharusnya mampu melakukan hal yang sama.
Aloka bukan sekadar hewan peliharaan atau maskot. Ia adalah makhluk hidup yang memilih untuk berjalan, bukan lari; untuk setia, bukan meninggalkan; dan untuk menjadi cahaya (aloka), meskipun ia memulai perjalanannya dari kegelapan jalanan. Perjalanannya telah berakhir di Washington, D.C., tetapi pesan yang ia bawa—tentang perdamaian yang dimulai dari langkah kaki paling sederhana—akan terus bergema di hati jutaan orang yang mengikutinya dari jauh.











