II. Israel: Antara Realpolitik dan Mesianisme Politik
Zionisme Religius Pasca-1967
Di Israel, kemenangan gemilang dalam Perang Enam Hari tidak hanya dimaknai secara nasionalistik tetapi juga teologis. Jatuhnya Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Gaza ke tangan Israel dihadirkan oleh para rabi Zionis religius sebagai mukjizat ilahi dan awal dari proses penebusan.
Tokoh sentral dalam teologi politik ini adalah Rabbi Abraham Isaac Kook dan putranya Rabbi Zvi Yehuda Kook, yang mengajarkan bahwa pendirian negara Israel adalah “techilat hatzmicha” (awal dari kebangkitan) menuju era mesianik. Berbeda dengan Yudaisme Ortodoks tradisional yang cenderung pasif menanti Mesias, aliran Kookian justru memandang tindakan politik dan militer sebagai bagian dari proses penebusan.
Gerakan Pemukim dan Teologi Pendudukan
Gerakan pemukim (Gush Emunim, kemudian Yesha Council) adalah implementasi politik dari teologi Kookian. Mereka meyakini bahwa mendiami seluruh Eretz Israel—termasuk wilayah yang diduduki 1967—adalah kewajiban religius (mitzvah) yang akan mempercepat kedatangan Mesias.
Pengaruh mereka terhadap kebijakan Israel tidak bisa diremehkan. Meskipun hanya mewakili sekitar 10-15% populasi, gerakan pemukim memiliki representasi berlebihan di Knesset dan kabinet melalui partai-partai seperti Partai Zionis Religius dan Otzma Yehudit. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bukan sekadar politisi sayap kanan; mereka adalah produk dari sistem pendidikan religius yang mengajarkan bahwa tanah Israel dijanjikan secara ilahi dan bahwa orang Arab adalah “para penghalang” yang harus disingkirkan.
Persimpangan dengan Eskatologi Kristen
Ironisnya, teologi mesianik Yahudi ini bertemu dengan teologi dispensasionalis Kristen dalam dukungan tanpa syarat terhadap Israel. Namun, keduanya memiliki end game yang bertentangan: Kristen evangelis mendukung Israel karena mereka percaya orang Yahudi harus berkumpul di tanah suci sebelum pertobatan massal mereka di akhir zaman, sementara Zionis religius justru menanti kedatangan Mesias Yahudi.
Pertemuan dua eskatologi yang secara teologis antagonistis ini menciptakan aliansi politik yang aneh namun kokoh. Di Washington, AIPAC bekerja sama dengan organisasi-organisasi Kristen Zionis seperti Christians United for Israel (CUFI) pimpinan John Hagee, yang secara terbuka mengajarkan bahwa perang dengan Iran dan sekutunya adalah bagian dari “War of Gog and Magog” yang mendahului kedatangan Yesus.