black and yellow no smoking sign

Teologi Perang dalam Kebijakan Amerika, Israel, dan Iran

III. Iran: Eskatologi Syiah dan Mesianisme Politik

Doktrin Wilayat al-Faqih dan Mesianisme Imami

Revolusi Islam 1979 di Iran tidak sekadar mengganti rezim, tetapi mendirikan sistem politik yang secara fundamental berbeda: Velayat-e Faqih (Kepemimpinan Ahli Hukum). Dalam kerangka teologi Syiah Itsna Asyariyah, kepemimpinan politik yang sah hanya milik Imam Maksum yang sedang dalam kegaiban (ghaybah). Namun, Ayatullah Khomeini melakukan lompatan teologis dengan mengklaim bahwa selama kegaiban, para fuqaha (ahli hukum) memiliki otoritas untuk memimpin umat.

Yang penting untuk dipahami adalah bahwa klaim ini tidak hanya politis tetapi juga eskatologis. Tujuan akhir dari sistem ini adalah mempersiapkan kedatangan Imam Mahdi—sosok mesianik dalam Islam Syiah yang diyakini akan muncul di akhir zaman untuk memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman.

Ahmadinejad dan Apokaliptisisme Politik

Era kepresidenan Mahmoud Ahmadinejad (2005-2013) menjadi puncak dari politisasi eskatologi Syiah. Ahmadinejad secara terbuka berbicara tentang doanya agar kedatangan Imam Mahdi dipercepat dan mengaitkan kebijakan luar negerinya, terutama program nuklir, dengan persiapan menuju era itu.

Dalam pidato-pidatonya di PBB, ia kerap menyisipkan doa untuk kemunculan Imam Zaman. Di dalam negeri, ia mengalokasikan dana besar untuk masjid Jamkaran di Qom—tempat yang diyakini sebagai lokasi kemunculan Imam Mahdi. Kebijakan luar negerinya yang konfrontatif terhadap Israel dan Barat tidak dapat dipisahkan dari kerangka teologis ini: konflik dengan “kekuatan kezaliman” adalah prasyarat bagi munculnya Sang Penyelamat.

Garda Revolusi dan Milenarisme

Tentara Garda Revolusi Islam (IRGC) bukan sekadar institusi militer; ia adalah instrumen pelindung revolusi dan penjaga ortodoksi. Para anggotanya diindoktrinasi dengan teologi perlawanan yang memadukan nasionalisme Iran, anti-imperialisme, dan kesetiaan kepada Imam Zaman.

Dalam berbagai pidato komandan IRGC, Israel disebut sebagai “entitas palsu” yang akan dihancurkan menjelang kemunculan Imam Mahdi. Dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok seperti Hizbullah dan Hamas juga dibingkai dalam kerangka ini: mempersiapkan medan perang untuk pertempuran final melawan kekuatan kejahatan global.

Yang membedakan eskatologi Syiah dengan dispensasionalisme Kristen adalah penekanan pada peran aktif manusia: umat tidak boleh sekadar menanti, tetapi harus berjuang untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan kemunculan Imam. Inilah yang memberikan urgensi revolusioner pada kebijakan luar negeri Iran.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Total
0
Share
error: Content is protected !!