black and yellow no smoking sign

Teologi Perang dalam Kebijakan Amerika, Israel, dan Iran

IV. Pertemuan Tiga Narasi: Titik Rawan Konflik

Yerusalem sebagai Simbol Eskatologis

Yerusalem, khususnya kompleks Masjid Al-Aqsa/Haram al-Sharif, adalah titik pertemuan paling eksplosif dari ketiga narasi eskatologis ini:

· Bagi Kristen evangelis, Yerusalem adalah tempat Yesus akan turun kembali di Bukit Zaitun dan tempat pertempuran Armageddon.
· Bagi Yahudi mesianik, Yerusalem adalah lokasi Bait Suci Ketiga yang harus dibangun di atas Haram al-Sharif, meskipun saat ini berdiri Dome of the Rock.
· Bagi Syiah Iran, Al-Aqsa adalah tempat suci ketiga yang harus dibebaskan dari cengkeraman “kekuatan setan.”

Ketika seorang jenderal Israel mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan ketat, atau ketika seorang politisi sayap kanan seperti Ben-Gvir melakukan “kunjungan provokatif,” peristiwa itu tidak hanya dibaca secara politis tetapi juga teologis. Bagi Iran, setiap langkah Israel di Yerusalem adalah konfirmasi bahwa pertempuran eskatologis sudah dekat.

Perang Nuklir dalam Kerangka Eskatologis

Program nuklir Iran dan kemampuan militer Israel-AS menciptakan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya: senjata pemusnah massal berada di tangan aktor-aktor yang, setidaknya pada level retoris, memiliki kerangka eskatologis yang melegitimasi kehancuran.

· Dalam kerangka Syiah, kemartiran adalah jalan menuju surga, dan kehancuran dunia fana bukanlah kerugian jika itu mempercepat kedatangan Imam Mahdi.
· Dalam kerangka Zionis religius, perang besar melawan “Gog dan Magog” (Iran dan sekutunya) adalah tahapan yang diperlukan menuju era mesianik.
· Dalam kerangka Kristen nasionalis, perang di Timur Tengah adalah “tanda waktu” yang dinanti-nantikan.

Ketika ketiga kerangka ini bertemu, konsep mutual assured destruction kehilangan daya gentarnya. Bagi aktor yang percaya bahwa kiamat adalah pintu menuju keselamatan, ancaman kiamat tidak lagi menjadi deterrent.

Hezbollah sebagai “Tangan Tuhan” Iran

Dukungan Iran terhadap Hezbollah di Lebanon Selatan juga memiliki dimensi eskatologis. Hezbollah tidak hanya dipandang sebagai kekuatan perlawanan terhadap Israel, tetapi juga sebagai “tentara Imam Mahdi” yang mempersiapkan medan untuk pertempuran final.

Dalam berbagai pidato Hassan Nasrallah, ia kerap mengaitkan keberhasilan militer Hezbollah dengan “janji ilahi” dan perlindungan Imam Zaman. Ketika Hezbollah menembakkan roket ke Israel Utara, peristiwa itu dibaca oleh pendukungnya sebagai bagian dari drama kosmik antara kekuatan kebenaran dan kebatilan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Total
0
Share
error: Content is protected !!