Kesaksian Handoko Wibowo, Pengacara Aktivis Agraria Omah Tani
Papah yang lihat televisi bersama Mamah juga saya sekeluarga tanggal 21 Mei 1998 menitik air mata haru sekaligus bahagia lihat tumbangnya Orde Baru dengan mundurnya Presiden Soeharto.
Langkah politik ekonominya monopoli cengkeh membuat jutaan petani cengkeh Indonesia menjadi miskin. Harganya malah jatuh bukan sebagaimana tujuannya untuk melindungi petani cengkeh. Bahkan cengkeh menjadi komoditi yang tidak bebas dijual beli. Hanya BPPC bisa leluasa membeli juga menjual. Keluarga saya menjadi korban karena hasil perkebunan kami tidak laku. Juga perdagangan untuk cengkeh dihentikan.
Saya ingat mobil pick up kesayangan adik saya ditangisinya ketika merapikan asesoris mobilnya untuk dijual bayar utang. Lalu rumah keluarga saya yang awalnya ramai aktivitas menjadi sepi. Saya ingat Papah kumpulkan receh dari brankasnya yang biasanya penuh uang jutaan.

Tapi kami belum mengalami hidup sulit yang ekstrem karena saya langsung jadi pengacara. Kontrak kantor kecil di Pekalongan. Karier saya jadi meteor kantor saya ramai bahkan pernah mempunyai lima orang asisten advokat. Jalan sesaat kira-kira sepuluh tahun saya alami dilematis. Rasanya banyak kasus tanah yang tidak seimbang perlawanan para petani miskin pada mafia tanah.
Saya dididik jadi orang yang selalu hormati orang susah karena keluarga saya bukan berasal dari konglomerat. Saya gampang tersentuh karena terus menerus disadarkan bahwa keluarga saya yang bukan apa-apa dibantu orang lain bosnya Papah untuk muncul jadi pengusaha UKM pabrik kapuk. Depan saya ada banyak orang berharap saya dampinginya.
Oke saya ambil putusan kantor advokat saya tutup. Saya biayai gerakan tani saya. Pada saat itu saya memilih untuk ulurkan tangan pada petani-petani miskin. Jadi ketika saya dicoba disuap para mafia tanah yang merampas tanahnya saya dengan tegas tolak karena secara perhitungan ekonomi saya jauh lebih rugi dari bila saya menerimanya karena saya yang nutup kantor berpenghasilan jauh dari nilai uang suap itu. Bukan saya bersih suci munafik tapi saya rasional. Jalan hidup saya berbelok. Saya bangga jadi pengacara rakyat.
Jadi kembali soal Suharto.

Tentu saya menolak sebagai pahlawan karena susahkan keluarga petani cengkeh. Termasuk keluarga saya. Papah stroke sangat berubah hidupnya dan sebelum meninggal sempat saksikan saya sulung pimpin demonstrasi puluhan truk petani. Dengan senyum.
Jadi seandainya penguasa Orde Baru tersebut sukses bangun ekonomi tapi membuat banyak warga sulit hidupnya apa bisa disebut pahlawan kah? Foto lama kira-kira tahun 2000 bersosialisasi ke kampung-kampung tentang hukum agraria.