Musnahnya Kopi Gayo

Di dataran tinggi Gayo, Aceh, udara pegunungan yang biasanya segar dan bercampur aroma bunga kopi, kini tergantikan oleh bau tanah basah dan kepedihan. Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra tak hanya meninggalkan jejak berupa longsoran tanah dan aliran lumpur, tetapi juga luka mendalam pada jantung perekonomian masyarakat: perkebunan kopi arabika Gayo yang legendaris. Ribuan hektare kebun hancur, mengancam kelangsungan hidup puluhan ribu keluarga petani dan mengirimkan guncangan yang berpotensi merambat hingga ke rantai pasokan kopi nasional dan global.

Di antara lereng yang telah berubah wajah itu, Sumiaji, 45 tahun, terlihat membawa tiga jerigen bekas oli yang digantungkan pada sebatang dahan. Air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya kini harus diperjuangkan dengan berjalan kaki dari bekas kebunnya di Kampung Paya Reje Temi Delem. Ia berjalan pelan, ditemani sesama petani, menapaki jalur yang kini hanya berupa medan berbatu dan dipenuhi gelondongan kayu—sebuah jalur yang tak lagi bisa dilalui kendaraan. Bencana di November yang lalu telah meluluhlantakkan sebagian besar lahannya, yang dulu ditanami kopi arabika Gayo, alpukat, dan sesekali cabai. Kini, dari satu hektare harapannya, hanya tersisa sekitar dua puluh persen tanaman kopi yang masih bertahan.

“Sudah tidak ada lagi kebunnya. Tanahnya hilang, kopinya hilang, sekitar 500 batang. Rata-rata umur kopinya sudah lima tahun dan tujuh tahun,” ucap ayah tiga anak ini dengan suara lirih. Istri yang ditinggalkannya pun sedang berjuang melawan stroke. Bagi Sumiaji, yang merantau ke daerah ini sejak 1996 tanpa sanak keluarga dekat, kopi adalah satu-satunya tumpuan untuk ‘mengepulkan asap’ di rumah tangganya. “Cuma kebun satu-satunya yang kita punya, cuma kopi harapan kami, yang lain tidak ada. Dan sekarang tidak ada lagi,” katanya, menyiratkan sebuah kepasrahan yang pahit.

Ia masih mengingat masa sebelum bencana, ketika kebunnya sedang berbuah lebat. Dalam panen terakhir, ia bisa mengumpulkan sekitar 50 kaleng (setara 10 bambu per kaleng) dengan penghasilan kotor sekitar tujuh juta rupiah per periode panen. Kini, sumber pendapatan itu telah raib tertimbun material longsor. Untuk menyambung hidup, Sumiaji beralih menjadi ongkosen—sebutan lokal bagi pemetik kopi upahan di kebun orang lain. “Pokoknya selama rusak kebun saya, ongkosen mengutip. Itulah sehari-hari, mengutip kopi di kebun tetangga,” ujarnya, menggambarkan sebuah ironi di mana pemilik kebun harus menjadi buruh di tanah orang.

Gelombang dampak bencana ini tidak berhenti di tingkat petani. Hendrika Fauzi, 34 tahun, pengusaha pengolah kopi yang menjalankan Harvest Coffee di Kecamatan Kebayakan, juga merasakan guncangan hebat. Usahanya mengolah buah kopi merah menjadi green bean atau biji kopi mentah untuk dikirim ke Medan, Jakarta, hingga Kalimantan kini terancam mandek. Fasilitas produksi yang sedang dalam pembangunan sejak Juli 2025 rusak dilanda banjir dan lumpur. Lantai penjemuran tertutup material basah, pagar rusak, dan peralatan terendam.

“Secara fasilitas kita, rusak di pagar dan lantai jemur. Tidak bisa dipakai hari ini karena berlumpur. Dan tentu itu akan mempengaruhi volume produksi,” jelas Hendrika. Produksinya yang sebelumnya mampu mencapai 50 ton per bulan, kini merosot drastis menjadi hanya satu hingga dua ton. Kerugian material diperkirakannya mencapai Rp 50–70 juta, yang harus dialokasikan untuk pembangunan ulang, penyewaan alat berat, dan pembelian material timbun.

Krisis di Gayo ini bukan sekadar musibah lokal. Kawasan dataran tinggi yang mencakup Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues ini adalah salah satu penghasil kopi arabika terpenting di Indonesia. Menurut data Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah, ada sekitar 52.076 hektare kebun kopi di wilayah ini, digarap oleh kurang lebih 39.475 petani. Pada tahun 2021 saja, Aceh Tengah menghasilkan 36.532 ton kopi arabika Gayo—sebuah komoditas yang telah menempatkan nama Indonesia di peta kopi spesialitas dunia.

Kehancuran yang terjadi kini mengancam siklus produksi tersebut. Bukan hanya pasokan untuk pasar nasional yang dapat terdampak, tetapi juga kontrak ekspor dan reputasi Gayo sebagai daerah penghasil kopi berkualitas. Di balik angka-angka statistik itu, ada cerita panjang tentang tanah, kerja keras, dan harapan yang tertanam bersama setiap biji kopi. Seperti yang diungkapkan oleh Sumiaji dan dirasakan oleh Hendrika, bencana ini telah memutus lebih dari sekadar tanaman; ia memutus mata pencaharian, merusak infrastruktur ekonomi, dan meninggalkan ketidakpastian yang membayangi masa depan kopi Gayo. Jejak hidrometeorologi di Sumatra ini, dengan demikian, bukan hanya tertoreh di permukaan tanah, tetapi juga dalam sejarah sosial-ekonomi masyarakat Aceh yang intim bersanding dengan biji kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Total
0
Share
error: Content is protected !!