Jejak Sang Perintis Bentoel

Riwayat dan Warisan Ong Hok Liong di Balik Kejayaan Bentoel

“Jadi orang harus mau melarat dulu, jangan lantas mau kaya saja.” Falsafah hidup yang sederhana namun sarat makna ini senantiasa digaungkan oleh Ong Hok Liong, seorang pendiri perusahaan rokok legendaris, Bentoel, dalam setiap langkah usahanya. Lebih dari sekadar nasihat, prinsip ini menjadi fondasi kokoh yang membangun imperium bisnis yang bertahan lebih dari setengah abad.

Akar Keluarga dan Awal Mula Petualangan

Ong Hok Liong lahir di Karang Pacar, Bojonegoro, pada 12 Agustus 1893. Ia adalah putra sulung dari pasangan Ong Hing Tjien dan Liem Pian Nio, yang dikaruniai tujuh orang anak (empat laki-laki dan tiga perempuan). Berasal dari keluarga Cina Jawa, Ong Hok Liong tumbuh tanpa pengetahuan mengenai tanah leluhurnya di Tiongkok, menandakan akulturasinya yang dalam dengan budaya setempat. Sejak muda, jiwa dagangnya sudah terlihat. Selepas kelas lima sekolah dasar, ia membantu gurunya mengajar, namun denyut nadi perdagangan tembakau lebih menarik hatinya. Menjelang usia 17 tahun, ia memutuskan untuk merantau meninggalkan Bojonegoro menuju Malang dan menetap di kawasan Pecinan Kecil, yang kini dikenal sebagai Jalan Wiromargo.

Perintisan Usaha: Dari Dapur Hingga Pabrik

Di Malang, sekitar tahun 1930, Ong Hok Liong bersama tetangganya, Tjoa Sioe Bian, memulai babak baru dalam hidupnya dengan merintis bisnis rokok, setelah sebelumnya berkecimpung dalam perdagangan beras. Ia mendirikan Strootjesfabriek Ong Hok Liong, yang kemudian menjelma menjadi Hien A Kongsie—cikal bakal berdirinya P.T. Bentoel. Tempat tinggalnya di Jalan Wiromargo tidak hanya menjadi rumah, tetapi juga pusat operasional pabrik. Dua ruang utama difungsikan sebagai kantor sekaligus tempat tinggal, sementara gudang di bagian belakang merangkap area pelintingan rokok klobot.

Modal awal perusahaan ini terbilang unik dan sarat makna, berasal dari gadai perhiasan milik istrinya, Liem Kiem Kwie Nio. Istrinya ini tidak hanya menjadi penyokong dana, tetapi juga menjadi penggerak utama roda perusahaan di masa-masa awal. Saat itu, Ong hanya memberdayakan tujuh orang karyawan yang seluruhnya masih memiliki ikatan keluarga. Dua di antaranya adalah adik kandungnya sendiri, Ong Hok Pa dan Ong Hok Bing. Model bisnis khas keluarga peranakan ini menjadi ciri awal pertumbuhan Bentoel.

Produk awal Bentoel hadir dengan beragam merek seperti Burung, Kendang, Klabang, Turki, dan Djeruk Manis. Namun, hingga tahun 1935, penjualan produk tidak mengalami perkembangan signifikan meski merek telah berkali-kali diganti. Situasi ini tak lepas dari dampak Great Depression atau malaise ekonomi yang melanda dunia saat itu, yang mengakibatkan daya beli masyarakat merosot tajam.

Titik Balik: Legitimasi Spiritual dan Lahirnya Merek “Bentoel”

Di tengah kesulitan, Ong Hok Liong melakukan ziarah dan semedi di makam Mbah Djunggo, Gunung Kawi. Langkah ini mencerminkan sinkretisme budaya Jawa-Tionghoa yang kuat, di mana aspek spiritual diyakini dapat memberikan petunjuk dalam mengatasi problema duniawi. Menurut putrinya, Mariani Samsi, yang kerap mendampingi sang ayah berziarah, nama “Bentoel” diperoleh melalui proses semedi yang panjang. Dalam mimpinya, Ong Hok Liong melihat banyak penjual bentul (umbi talas) yang memikul dagangannya berdatangan berbondong-bondong. Nama inilah yang kemudian diadopsi dan terbukti menjadi titik balik keberuntungan perusahaan.

Ujian Sejarah dan Ekspansi Pasca-Kemerdekaan

Perusahaan kembali menghadapi ujian berat ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942. Kegiatan produksi terhenti, dan Ong terpaksa mengungsi ke Gunung Kawi. Namun, tidak ada pihak luar yang mengambil alih kendali perusahaan, sehingga ketika Jepang mundur, Bentoel dapat segera bangkit dan mempertahankan popularitasnya.

Semangat nasionalisme Ong Hok Liong teruji selama masa revolusi fisik (1945-1949). Saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948, pabrik Bentoel tidak hanya beroperasi, tetapi juga menjadi tempat persembunyian bagi para gerilyawan Republik. Ong secara aktif memasok makanan dan rokok kepada para pejuang. Bahkan, ia mengirimkan bantuan berupa besek Bentoel yang berisi rokok dan uang ke kantong-kantong perlawanan Republik di Jawa Timur hingga ke front di Jakarta. Tindakan ini menunjukkan bahwa Bentoel bukan sekadar entitas bisnis, tetapi juga bagian dari denyut nadi perjuangan kemerdekaan.

Setelah pengakuan kedaulatan, perusahaan berkembang pesat. Pada tahun 1948, perusahaan berubah menjadi CV Ong Hok Liong dengan jumlah buruh mencapai 100 orang. Kantor cabang didirikan di Tulungagung, dan pabrik diperluas ke kawasan Bareng Lonceng. Pasca-perang, ekspansi berlanjut ke kawasan Kasin, menempati bekas lokasi pabrik semen. Puncaknya, pada tahun 1950, perusahaan bertransformasi menjadi NV Bentoel dengan jumlah karyawan mencapai 3.000 orang.

Inovasi, Diversifikasi, dan Modernisasi

Di bawah kepemimpinan Ong Hok Liong, Bentoel tak henti berinovasi. Pada tahun 1956, perusahaan mengakuisisi pabrik rokok Orong-orong di Blitar milik Liem Ting Tjoan, yang kemudian difungsikan sebagai unit produksi rokok seperti Bentoel Rawit, Special, dan Tresno. Langkah diversifikasi dimulai dengan pembelian percetakan milik pabrik rokok Amiseta pada tahun yang sama, yang kemudian menjadi cikal bakal divisi grafika terpadu.

Semangat modernisasi sangat terasa ketika Bentoel menjadi pelopor penggunaan Sigaret Kretek Mesin (SKM) pada tahun 1968. Sebenarnya, sejak tahun 1951, Ong telah memasang mesin perajang cengkeh. Meski demikian, produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) tetap dilanjutkan, termasuk untuk memenuhi pasar ekspor ke Amerika Serikat melalui merek Bentoel Kuta dan Bali sejak tahun 1964. Puncak modernisasi terjadi pada tahun 1994 dengan berdirinya pabrik kertas P.T. Ayu Wangi. Saat itu, sebelum akhirnya dikelola Rajawali Group pada akhir 1991, Bentoel telah menjelma menjadi raksasa industri dengan 12.000 karyawan dan pabrik seluas 25 hektar di Karanglo, berkapasitas produksi 60 juta batang rokok per hari. Kepemimpinan saat itu dipegang oleh Suharyo Adisaputro, putra sulung Ong Hok Bian (adik Ong Hok Liong).

Warisan Sosial dan Filosofi Hidup

Keberhasilan bisnis tidak membuat Ong Hok Liong lupa diri. Pada tahun 1963, ia mendirikan kompleks sekolah dari tingkat TK hingga SMA di Bojonegoro, kampung halamannya. Ia juga membangun dua perpustakaan Bentoel di Malang dan mendirikan Kafetaria Student Center di lingkungan IKIP Malang (kini Universitas Negeri Malang) pada tahun 1964. Langkah ini mencerminkan kepeduliannya terhadap pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Sepanjang hidupnya, Ong Hok Liong dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras dan sederhana. Ia memegang teguh prinsip Jawa “becik ketitik, ala kentara”—perbuatan baik maupun buruk pada akhirnya akan diketahui juga. Bahkan dalam proses produksi, ia terlibat langsung, terutama dalam pembuatan saus rahasia yang menjadi ciri khas rokok Bentoel, yang terbuat dari campuran Havana, pisang ambon, dan alkohol.

Ong Hok Liong tutup usia pada 26 April 1967 karena sakit lever. Namun, warisannya tetap abadi, tidak hanya dalam bentuk perusahaan raksasa, tetapi juga dalam nilai-nilai ketekunan dan kejujuran yang diwariskannya.

Museum Bentoel: Menyusuri Lorong Waktu

Salah satu warisan fisik yang paling nyata adalah Museum Bentoel yang terletak di Jalan Wiromargo, Malang, persis di lokasi asal mula perusahaan ini berdiri. Di lokasi inilah, di sebuah rumah sederhana, Ong Hok Liong merintis usahanya. Atas wasiatnya, rumah ini tidak boleh dibongkar. Meskipun sempat direnovasi pada akhir 1970-an untuk menyesuaikan dengan rencana pengembangan kantor, bentuk asli rumah tetap dipertahankan dan mundur beberapa meter dari jalan untuk mengantisipasi pelebaran jalan.

Museum yang diresmikan pada 25 November 1994 oleh Walikotamadya Malang, Soesamto, ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang Bentoel. Pengunjung diajak menyusuri lorong waktu melalui panel-panel informatif dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) yang menceritakan perjalanan perusahaan, dari dapur rumah sederhana di Pecinan Kecil hingga menjadi salah satu pemain utama industri rokok nasional yang akhirnya bergabung dengan Rajawali Group. Terletak hanya 100 meter dari Pasar Besar Malang, museum ini buka dari Senin hingga Jumat, menjadi destinasi edukatif yang menarik bagi mereka yang ingin mempelajari sejarah industri dan kewirausahaan di Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Total
0
Share
error: Content is protected !!