Mengenang Perjalanan, Merawat Warisan, Menyemai Masa Depan
Pendahuluan: Sebuah Perjalanan Panjang yang Bermula dari Kegelisahan
Seratus dua puluh lima tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Maret 1901, sebuah lembaga pendidikan berdiri di sebuah gedung sederhana di Jalan Patekoan Nomor 31, Batavia. Gedung yang kini beralamat di Jalan Perniagaan Raya itu menjadi saksi bisu lahirnya sekolah swasta modern pertama di Hindia Belanda—sebuah langkah yang pada zamannya tergolong revolusioner.
Sekolah THHK (Tiong Hoa Hwee Koan) tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari rahim sebuah organisasi yang didirikan setahun sebelumnya, pada 17 Maret 1900, oleh dua puluh orang tokoh masyarakat Tionghoa. Di antara mereka terdapat nama-nama yang kini tercatat dalam lembaran sejarah pendidikan Indonesia: Phoa Keng Hek dan Lie Kim Hok—dua sahabat yang pernah menempuh pendidikan di sekolah misionaris Sierk Coolsma.
Latar Kelahiran: Merespons Diskriminasi Kolonial
Untuk memahami mengapa sekolah ini begitu penting, kita perlu melihat kondisi sosial-politik saat itu. Pemerintah kolonial Hindia Belanda menerapkan politik segregasi yang ketat. Etnis Belanda menempati strata tertinggi dengan akses penuh terhadap pendidikan berkualitas. Sementara komunitas Tionghoa dan Arab berada di strata menengah, dan pribumi di strata terendah.
Kelompok menengah dan bawah ini memiliki nasib yang serupa: mereka tidak mendapat akses pendidikan yang layak dari pemerintah kolonial. Diskriminasi ini yang kemudian menjadi bahan bakar semangat para pendiri THHK. Mereka tidak rela anak-anak mereka tumbuh tanpa bekal pengetahuan yang memadai di tanah kelahiran sendiri.
Tujuan awal THHK sendiri adalah mulia: mereformasi kebiasaan-kebiasaan buruk dalam masyarakat, menyebarluaskan ajaran Konfusius, merintis sistem pendidikan modern, serta meningkatkan harkat dan martabat warga Tionghoa di masyarakat Hindia Belanda.
Sekolah Pahoa: Nama yang Melegenda
Sekolah THHK Batavia kemudian populer dengan sebutan “Pahoa” atau “Pa Hoa”—sebuah akronim dari Patekoan Tiong Hoa Hwee Koan. Penamaan berdasarkan lokasi ini menjadi ciri khas yang membedakannya dari cabang-cabang THHK di kota lain, seperti Ze Hoa di Tegal yang didirikan pada 20 Agustus 1906.
Sejarawan Didi Kwartanada dalam diskusi “Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 sampai Sekolah Terpadu PAHOA 2008” menjelaskan bahwa gedung sekolah ini dibeli dari Nederlandsch Indische Hypotheek Bank di Batavia. Di gedung inilah proses transformasi pendidikan modern bagi masyarakat Tionghoa dimulai.
Kurikulum Sekolah THHK pun tergolong maju pada masanya. Sekolah ini menggunakan bahasa pengantar Mandarin dan Inggris—sebuah pilihan yang sarat makna. Mandarin dipilih sebagai bentuk pelestarian identitas budaya, sementara Inggris menjadi jendela untuk mengakses pengetahuan dunia. Dalam perkembangannya, kurikulum ini mengalami berbagai penyesuaian, dengan penambahan bahasa Belanda, bahasa Jepang, dan kemudian bahasa Indonesia seiring waktu.
Lebih dari Sekadar Sekolah Tionghoa
Salah satu aspek paling menarik dari sejarah THHK adalah dampaknya yang melampaui batas-batas etnis. Sekolah ini tidak hanya menjadi pusat pendidikan bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga ikut memicu kebangkitan nasionalisme Indonesia secara lebih luas.
Dokter Wahidin Sudirohusodo, salah seorang pendiri Boedi Oetomo, secara terbuka mengakui bahwa organisasi kemasyarakatan Tionghoa telah memacu orang Jawa untuk mendirikan organisasinya sendiri. Pernyataan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa semangat kebangkitan tidak berkembang dalam ruang hampa—ia menyebar melintasi sekat-sekat etnis yang sengaja dibangun oleh kolonial.
Pada tahun 1910, pengurus THHK dan Boedi Oetomo bahkan mengadakan pertemuan untuk bertukar pengalaman dalam kegiatan organisasi. Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangan untuk memajukan bangsa tidak mengenal perbedaan latar belakang.
Kehadiran THHK juga menginspirasi komunitas lain. Pada tahun 1905, komunitas Arab mendirikan Jam’iyyat Khair. Kemudian menyusul Boedi Oetomo (1908), Muhammadiyah (1911/1912), dan Taman Siswa (1922). Semua ini lahir dalam rentang waktu tidak lebih dari dua dekade setelah THHK berdiri—sebuah periode yang oleh para sejarawan disebut sebagai masa kebangkitan nasional Indonesia.
Pemerintah kolonial sendiri merasa resah dengan perkembangan THHK. Sekolah ini tumbuh pesat hingga memiliki lebih dari seratus cabang hampir di seluruh Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan wilayah Hindia Belanda lainnya. Kekhawatiran ini memuncak ketika Belanda memutuskan untuk mendirikan sekolah tandingan bernama Hollandsch Chineesche School (HCS) pada sekitar tahun 1908, dengan tujuan membendung laju perkembangan THHK.
Pasang Surut di Tengah Badai Sejarah
Perjalanan Sekolah THHK tidak selalu mulus. Sejarah membawa lembaga ini melalui berbagai fase suram.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), sekolah ini sempat ditutup. Namun pukulan terbesar datang pada pertengahan tahun 1960-an. Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, Pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan yang melarang segala bentuk pengajaran, penerbitan, dan brosur dengan aksara Tionghoa.
Ratusan sekolah Tionghoa diambil alih negara. Gedung Sekolah Pahoa di Patekoan, misalnya, kemudian dialihfungsikan menjadi SMUN 19 Jakarta. Sementara di Tegal, kompleks Ze Hoa dibagi menjadi SMP Negeri IV dan Sekolah Menengah Olahraga Atas.
Nama THHK pun seolah-olah lenyap dari peta pendidikan nasional. Jasa-jasanya dalam merintis pendidikan modern nyaris terlupakan. Selama lebih dari tiga dekade, generasi muda Indonesia—termasuk mereka yang berlatar belakang Tionghoa sendiri—tumbuh tanpa mengetahui bahwa kakek-nenek mereka pernah bersekolah di lembaga yang menjadi pelopor pendidikan swasta modern di Nusantara.
Di tengah pelarangan ini, istilah “Tionghoa” yang justru dipopulerkan oleh THHK sejak tahun 1900 sebagai pengganti “Tjina” yang dianggap merendahkan, ikut terkena imbasnya. Pemerintah Orde Baru kembali menggunakan istilah “Cina” dan mempertahankannya hingga akhir masa pemerintahannya pada tahun 1998.
Kebangkitan di Era Reformasi
Reformasi 1998 membawa angin perubahan. Diskriminasi terhadap masyarakat keturunan Tionghoa perlahan-lahan memudar. Atmosfer keterbukaan ini menyisakan ruang bagi anak-anak bangsa untuk kembali menggali sejarah yang selama ini tersembunyi.
Pada tahun 2008—setelah 42 tahun vakum—Sekolah Pahoa bangkit kembali. Inisiatif ini datang dari para alumnus yang ingin melanjutkan warisan pendidikan yang telah dirintis oleh para pendahulu mereka. Mereka mendirikan Yayasan Pendidikan dan Pengajaran PAHOA dan membuka Sekolah Terpadu Pahoa di kawasan Summarecon Serpong, Tangerang.
Nama “Pahoa” dipilih dengan sengaja. Kata “Pa Hoa” yang sebelumnya berarti “Patekoan Tiong Hoa Hwee Koan” kini dirangkai menjadi “Pahoa” yang bermakna baru namun tetap menghormati tradisi. Lokasi sekolah baru ini pun simbolis: beralamat di Jalan Ki Hajar Dewantara Nomor 1—mengambil nama Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yang mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922, sebuah lembaga yang juga terinspirasi oleh semangat kebangkitan yang sama.
Sekolah Terpadu Pahoa Masa Kini
Sekolah Terpadu Pahoa masa kini adalah institusi yang berbeda secara administratif namun mewarisi semangat yang sama dari pendahulunya. Sekolah ini dikategorikan sebagai Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) dan menggunakan kurikulum perpaduan antara Pearson Edexcel dan kurikulum nasional.
Menariknya, sekolah ini tetap mempertahankan identitas trilingual yang menjadi ciri khas THHK sejak awal. Bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris digunakan secara intensif dalam proses belajar-mengajar. Sekolah Terpadu Pahoa juga memiliki visi untuk menekankan pendidikan moral dan etika yang bersumber dari ajaran Konfusius yang universal, namun tetap terbuka bagi semua umat dari berbagai agama.
Fakta bahwa pendidikan agama untuk keenam agama yang diakui di Indonesia (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu) tersedia di setiap jenjang menunjukkan bahwa semangat inklusivitas dan keterbukaan yang ditanamkan para pendiri THHK pada tahun 1900 masih hidup hingga hari ini.
Saat ini, Sekolah Terpadu Pahoa tidak hanya hadir di Serpong, tetapi juga telah membuka cabang di Summarecon Crown Gading, Bekasi, melayani peserta didik dari jenjang prasekolah (Nursery, Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak) hingga Sekolah Menengah Atas.
Makna 125 Tahun bagi Pendidikan Indonesia
Peringatan 125 tahun Sekolah THHK bukan sekadar seremoni. Ada beberapa nilai penting yang perlu direnungkan.
Pertama, tentang keberanian memulai. Para pendiri THHK tidak menunggu kondisi ideal. Mereka memulai dengan apa yang ada—gedung sederhana, sumber daya terbatas, dan ancaman diskriminasi dari pemerintah kolonial. Namun mereka memiliki keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari segala bentuk keterbelakangan. Ini adalah pesan abadi bagi setiap generasi: jangan pernah merasa terlalu kecil untuk memulai sesuatu yang besar.
Kedua, tentang sifat inklusif perjuangan. THHK didirikan oleh dan untuk komunitas Tionghoa, namun dampaknya dirasakan oleh seluruh bangsa. Boedi Oetomo, Muhammadiyah, Taman Siswa—semua mengakui utang budi pada semangat yang diteladankan oleh THHK. Fakta ini mengajarkan bahwa perjuangan untuk memajukan bangsa tidak pernah eksklusif; ia selalu melibatkan dan menginspirasi semua komponen masyarakat.
Ketiga, tentang ketahanan menghadapi badai. Sekolah THHK sudah mati-surang, asetnya dirampas, namanya dihapus. Namun esensinya tidak mati. Ia tidur sebentar, lalu bangkit kembali di era yang lebih terbuka. Ini mengajarkan bahwa sebuah institusi yang didirikan di atas nilai-nilai kebajikan dan pengabdian akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan.
Keempat, tentang pentingnya menjaga sejarah. Minimnya literatur mengenai kontribusi masyarakat Tionghoa dalam dunia pendidikan modern Indonesia telah mendorong terbitnya buku Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 sampai Sekolah Terpadu PAHOA 2008 karya Iskandar Jusuf. Buku ini menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan tempat THHK dalam narasi sejarah nasional—sebuah pekerjaan yang masih terus berlangsung hingga kini.
Penutup: Warisan untuk Masa Depan
Pada tahun 2026, ketika kita memperingati 125 tahun berdirinya Sekolah THHK, kita sebenarnya sedang merayakan lebih dari sekadar ulang tahun sebuah institusi. Kita merayakan sebuah gagasan: bahwa pendidikan adalah hak semua orang, bahwa perjuangan dapat menginspirasi melampaui batas-batas etnis, dan bahwa nilai-nilai kebajikan bersifat universal.
Sekolah Terpadu Pahoa yang berdiri hari ini di Serpong dan Bekasi adalah bukti hidup bahwa warisan itu terus dijaga. Dengan moto “Belajar untuk Diamalkan” dan tiga pilar Attitude, Communication, and Thinking (ACT), sekolah ini berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter dan mampu berkontribusi bagi bangsa.
Seratus dua puluh lima tahun adalah rentang waktu yang panjang. Dalam perjalanan sepanjang itu, sekolah ini telah menyaksikan pergantian rezim kolonial, pendudukan perang, kebijakan diskriminatif, hingga era reformasi yang lebih terbuka. Melalui semua itu, satu hal tetap bertahan: keyakinan bahwa pendidikan adalah fondasi peradaban yang bermartabat.
Sebagaimana disampaikan oleh sejarawan Didi Kwartanada, bibit nasionalisme yang ditanam oleh sekolah-sekolah seperti THHK pada akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Ini adalah pengingat bahwa kontribusi THHK terhadap Indonesia tidak pernah terbatas pada komunitas Tionghoa semata—ia adalah bagian integral dari sejarah bangsa ini.
Maka, di usia yang ke-125, sudah sepantasnya kita tidak hanya mengenang perjalanan panjang Sekolah THHK, tetapi juga merawat warisannya dan menyemaikannya untuk masa depan. Karena pada akhirnya, sebuah lembaga pendidikan tidak diukur dari berapa lama ia telah berdiri, tetapi dari seberapa banyak generasi yang dibentuknya menjadi manusia yang lebih baik.
Selamat hari jadi ke-125, Sekolah THHK. Terima kasih telah menjadi bagian dari sejarah pendidikan Indonesia. Semangatmu akan terus hidup.
Jakarta, 1 Mei 2026