Ketika Pohon Ara Bisa “Membatu”: Harapan Baru dari Alam untuk Lawan Krisis Iklim
Siapa sangka, di balik rindangnya daun dan manisnya buah, pohon ara menyimpan rahasia ilmiah yang luar biasa. Tim peneliti internasional dari Kenya, Amerika Serikat, Austria, dan Swiss menemukan bahwa beberapa spesies pohon ara mampu menyimpan kalsium karbonat di batangnya — secara harfiah mengubah sebagian tubuhnya menjadi batu.
Temuan ini diumumkan di Konferensi Goldschmidt 2025 di Praha dan menjadi salah satu kabar paling menggembirakan dalam upaya global menghadapi perubahan iklim. Para ilmuwan menjelaskan bahwa pohon ara bukan hanya menyerap CO₂ lewat fotosintesis seperti pohon lain, tapi juga mengubah gas rumah kaca itu menjadi kristal kalsium oksalat. Ketika bagian pohon membusuk, kristal ini bereaksi dengan mikroorganisme dan berubah menjadi kalsium karbonat — mineral yang sama yang membentuk batu kapur.
Proses unik ini tak hanya “mengunci” karbon lebih lama di tanah, tapi juga meningkatkan kualitas tanah dengan menaikkan pH dan memperkaya unsur hara di sekitarnya. Dalam bahasa sederhana, pohon ara bukan sekadar penyerap karbon, tapi juga “arsitek ekologi” yang memperbaiki lingkungan tempat ia tumbuh.
Studi yang dilakukan bersama University of Zurich, Nairobi Technical University, dan sejumlah universitas lain ini menemukan bahwa Ficus wakefieldii adalah spesies paling efektif menyerap karbon dalam bentuk batu. Bayangkan jika spesies seperti ini ditanam massal dalam sistem agroforestri — bukan hanya menghasilkan buah, tapi juga ikut menstabilkan iklim bumi.
Menurut Dr. Mike Rowley dari University of Zurich, jalur oksalat-karbonat yang dimiliki pohon ara adalah “peluang emas” yang selama ini luput dari perhatian dunia sains. Banyak spesies pohon, katanya, mungkin juga punya kemampuan serupa namun belum dieksplorasi.
Penemuan ini mengubah cara kita melihat pepohonan: bukan sekadar penghasil oksigen, tapi penyimpan karbon jangka panjang yang bisa ‘membatu’ demi masa depan bumi. Sebuah bukti bahwa solusi iklim kadang tumbuh diam-diam — di batang pohon yang kita anggap biasa saja.