Lu Xun: Sang Patriot yang Meledak dalam Keheningan


Dalam sejarah sastra Tiongkok modern, nama Lu Xun berdiri setinggi mercusuar yang tak kunjung padam. Ia tidak hanya dikenal sebagai “Bapak Sastra Tiongkok Modern”, tetapi juga dikanonisasi sebagai “Jiwa Bangsa” yang getol mengkritik ketidakadilan zamannya . Dilahirkan dengan nama Zhou Shuren pada tanggal 25 September 1881, di Shaoxing, Provinsi Zhejiang, Lu Xun tumbuh dalam keluarga yang awalnya sejahtera . Namun, masa kecil yang bahagia itu berakhir tragis pada tahun 1893, ketika kakeknya dipenjara karena kasus kecurangan ujian dan ayahnya jatuh sakit parah. Kejatuhan pamor keluarga ini membuatnya merasakan pahitnya perlakuan dingin dari komunitas dan kerabat sendiri, pengalaman pahit inilah yang kelak membentuk kepekaan dan nada pesimistis dalam karya-karyanya .

Perjalanan intelektual Lu Xun dimulai ketika ia meninggalkan kampung halaman untuk belajar di sekolah pertambangan di Nanjing. Di sanalah ia pertama kali terpapar teori evolusi Darwin, yang oleh para intelektual Tiongkok saat itu diartikan sebagai seruan untuk reformasi sosial dan perjuangan melawan hal-hal yang kolot . Hasrat untuk memajukan bangsanya membawanya melintasi lautan ke Jepang pada tahun 1902. Awalnya ia mendaftar di Sekolah Kedokteran Sendai dengan tekad mulia untuk menyembuhkan rakyat Tiongkok secara fisik. Namun, sebuah peristiwa mengubah hidupnya secara fundamental. Ia menyaksikan tayangan foto eksekusi seorang mata-mata Tiongkok dalam Perang Rusia-Jepang; yang paling menyayat hati bukanlah kematian si terhukum, melainkan sikap apatis dan dingin para penonton Tiongkok yang berkerumun di sekitarnya .

Dari situlah Lu Xun menyadari bahwa yang paling sakit dari bangsanya bukanlah raga, melainkan jiwa. Reformasi tidak akan pernah tercapai tanpa mengubah mentalitas rakyat . Ia pun mengambil keputusan besar untuk berhenti dari sekolah kedokteran dan beralih ke dunia sastra. Ibarat seorang dokter yang mengganti pisau bedahnya dengan pena, Lu Xun memilih untuk meretas kebodohan dan membangunkan mereka yang terlelap dalam “rumah besi” tanpa jendela—sebuah metafora terkenal yang ia gunakan untuk menggambarkan kondisi masyarakat Tiongkok saat itu yang terbelenggu oleh tradisi feodal. Ia mempertanyakan apakah membangunkan para penghuni rumah besi yang nyaris mati lemas itu adalah tindakan yang tepat, karena mereka akan merasakan penderitaan yang lebih pedih sebelum ajal menjemput. Namun, atas desakan sahabatnya, Qian Xuantong, yang masih melihat adanya secercah harapan, Lu Xun akhirnya memutuskan untuk berteriak membangunkan mereka yang tertidur .

Pada tahun 1918, ia menerbitkan karya monumental yang mengubah wajah sastra Tiongkok. Dengan nama pena Lu Xun untuk pertama kalinya, ia menulis cerpen berjudul Kisah Seorang Gila dalam majalah radikal Pemuda Baru . Cerita ini bukan hanya menjadi cerita modern pertama yang ditulis dalam bahasa Tionghoa vernakular (baihua), tetapi juga merupakan tamparan keras terhadap kebudayaan Konfusianisme tradisional yang dianggapnya sebagai masyarakat “kanibal” . Tokoh “orang gila” dalam cerita itu sebenarnya adalah sosok yang paling waras karena mampu melihat realitas memakan manusia yang tersembunyi di balik tatanan sosial yang mapan.

Puncak kepiawaian Lu Xun dalam menyindir semakin terlihat dalam novel pendeknya, Kisah Nyata Ah Q, yang terbit pada tahun 1921-1922. Lewat tokoh Ah Q, seorang petani tak berpendidikan yang hidup dalam ilusi kemenangan spiritual setiap kali mengalami kekalahan, Lu Xun dengan brilian menciptakan istilah “Semangat Ah Q”. Istilah ini melekat dalam bahasa Tionghoa modern untuk menggambarkan kecenderungan orang membela diri dengan rasionalisasi palsu agar tidak merasa kalah . Karya-karya awalnya ini kemudian dihimpun dalam kumpulan cerpen Seruan (1923), yang menjadi fondasi reputasinya sebagai penulis terkemuka di Tiongkok, disusul kemudian oleh Kebimbangan (1926) yang mengisyaratkan kegalauannya di masa pasca-Per Empat Mei .

Lu Xun tidak hanya seorang cerpenis. Ia juga seorang akademisi handal yang pernah mengajar di berbagai universitas bergengsi seperti Universitas Peking, serta menghasilkan karya monumental berjudul Sejarah Singkat Fiksi Tiongkok (1923-1924) yang hingga kini masih menjadi acuan standar . Selain itu, ia juga produktif menerjemahkan karya-karya sastra asing, terutama dari Rusia dan Jepang, dalam upayanya menyuntikkan “darah intelektual segar” ke dalam gerakan kebudayaan Tiongkok . Bakatnya juga merambah ke puisi prosa simbolis dalam Rumput Liar (1927) serta memoar eksperimental dalam Bunga Puspa Pagi yang Dipetik Senja (1928) .

Kehidupan pribadi dan politik Lu Xun penuh dengan dinamika dan konflik. Pada tahun 1926, terjadi keretakan yang mendalam dengan adiknya, Zhou Zuoren, yang juga seorang intelektual terkemuka. Tekanan politik yang terus meningkat, termasuk ancaman dari pemerintah Nasionalis, memaksanya meninggalkan Beijing . Setelah mengembara sejenak di Xiamen dan Guangzhou, ia akhirnya menetap di Shanghai pada tahun 1927. Di kota inilah ia hidup bersama Xu Guangping, mantan mahasiswinya, yang kemudian melahirkan seorang putra pada tahun 1929 .

Di Shanghai, Lu Xun berhenti menulis fiksi dan mengalihkan seluruh energinya ke esai-esai satirik pedas yang ia sebut zawen atau “tombak dan belati”. Bentuk tulisan ini ia gunakan sebagai senjata protes politik yang paling tajam . Pada tahun 1930, ia menjadi ketua nominal dari Liga Penulis Kiri, sebuah organisasi sastra yang terafiliasi dengan komunis . Meskipun ia mulai mendekati Partai Komunis Tiongkok dan menganggapnya sebagai satu-satunya keselamatan bagi negara, Lu Xun dengan tegas menolak untuk menjadi anggota partai, lebih memilih menyebut dirinya sebagai “teman seperjalanan” . Ia mengkritik habis-habisan lingkaran sastra komunis Shanghai yang dianggapnya terlalu mengekor pada propaganda. Posisi politiknya yang unik ini ia gambarkan dengan istilah hengzhan, atau “pertempuran horizontal”, yaitu berjuang melawan kanan dan kiri, melawan konservatisme budaya dan evolusi mekanistik secara simultan—sebuah posisi yang menunjukkan betapa kompleks dan tragisnya nasib seorang intelektual di tengah pusaran sejarah .

Pada tanggal 19 Oktober 1936, Lu Xun menghembuskan napas terakhirnya di Shanghai karena penyakit tuberkulosis, pada usia 55 tahun . Setelah kematiannya, Partai Komunis Tiongkok mengadopsi Lu Xun sebagai teladan Realisme Sosialis. Karya-karyanya dibakukan ke dalam buku teks sekolah, museum didirikan untuk menghormatinya, dan namanya diabadikan. Namun, terlepas dari kanonisasi politik tersebut, warisan Lu Xun yang sesungguhnya adalah sikap skeptisnya yang tak kenal lelah. Ia tidak pernah puas hanya menjadi ikon, karena sepanjang hidupnya, ia adalah seorang “pihak antara”—sesosok perantara yang menolak untuk diidentifikasi secara membabi buta oleh kubu tradisional maupun modern . Ia terus mengingatkan bangsanya akan sebuah pilihan abadi: “Meledak dalam keheningan, atau mati karenanya” .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Total
0
Share
error: Content is protected !!